![]() |
| Manajemen PTPN IV PalmCo saat memantau aktivitas produktif karyawan lintas suku di area perkebunan kelapa sawit pada Selasa (24/02/2026). |
Jakarta, GENKEBUN.COM – PT Perkebunan Nusantara IV (PTPN IV) PalmCo mengelola 69.455 tenaga kerja dari 55 suku bangsa berbeda untuk memperkuat operasional perusahaan perkebunan sawit sebagai kekuatan strategis yang menyerupai miniatur Indonesia.
Data demografi per Desember 2025 menunjukkan komposisi karyawan tersebar dari berbagai wilayah, mulai dari Jawa, Batak, Dayak, hingga perwakilan Indonesia Timur seperti Papua dan Flores yang bekerja dalam satu ekosistem terintegrasi.
Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K. Santosa, menjelaskan bahwa kemajemukan ini tercipta karena lokasi perkebunan berada di wilayah pelosok yang membutuhkan suplai tenaga kerja lintas pulau secara berkelanjutan bagi operasional perusahaan.
"PTPN IV PalmCo ini benar-benar seperti Miniatur Indonesia, Kebun sawit itu kan lokasinya banyak di pelosok. Karena penduduk lokal jumlahnya terbatas, akhirnya datanglah saudara-saudara kita dari berbagai pulau untuk bekerja. Di sinilah pertemuan budaya itu terjadi," ujar Jatmiko, dikutip dari laman PTPN 4, Selasa(24/02/2026).
Manajemen menerapkan nilai-nilai Amanah, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif, dan Kolaboratif (AKHLAK) untuk menyatukan perbedaan latar belakang tersebut menjadi sebuah budaya industri korporasi modern yang adaptif guna memacu produktivitas di lapangan.
Pencampuran identitas ini menciptakan keseimbangan sosial yang mampu meredam potensi konflik antarindividu. Keberagaman tersebut justru dikelola sebagai aset Human Capital yang kuat untuk menjawab tantangan industri agribisnis global yang semakin kompetitif.
Beberapa poin utama mengenai keragaman demografi di tubuh anak perusahaan holding perkebunan ini antara lain:
Total tenaga kerja mencapai 69.455 orang per Desember 2025.
Terdapat 55 suku bangsa yang aktif berbaur di seluruh area kerja.
Dominasi usia produktif berada pada rentang 41-50 tahun sebesar 41 persen.
Kelompok usia 31-40 tahun menyumbang porsi sebesar 27 persen dari total karyawan.
"Bayangkan, ketekunan rekan-rekan dari Jawa bertemu dengan ketegasan dan semangat rekan-rekan Batak, ditambah lagi dengan keramahan budaya Melayu dan kearifan warga lokal. Ketika semua sifat baik ini disatukan dengan nilai-nilai perusahaan (AKHLAK), hasilnya adalah cara kerja yang luar biasa produktif," ungkap Jatmiko.
Implementasi toleransi terlihat nyata saat hari besar keagamaan, di mana karyawan lintas keyakinan saling menggantikan peran penjagaan pabrik. Praktik ini memastikan operasional pengolahan kelapa sawit tidak berhenti berjalan sepanjang tahun kalender.
Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI), Tungkot Sipayung, menilai fenomena ini sebagai bukti industri sawit berperan sebagai agen pemerataan ekonomi nasional yang berhasil menciptakan pusat pertumbuhan ekonomi baru.
Kepatuhan terhadap prinsip non-diskriminasi ini memperkuat posisi perusahaan dalam memenuhi standar Social Sustainability. Hal tersebut menjadi syarat mutlak untuk memperoleh sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) maupun Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO).
Transformasi dari pola pikir pertanian tradisional menuju budaya korporasi global dilakukan dengan meleburkan puluhan etnis menjadi satu entitas profesional. Langkah strategis ini memperkokoh daya saing agribisnis nasional melalui penguatan kualitas sumber daya manusia.
PTPN IV PalmCo mencatat mayoritas pekerja merupakan kelompok usia produktif yang memiliki loyalitas tinggi. Kekayaan budaya dan harmoni sosial di area perkebunan menjadi tumpuan utama perusahaan dalam mewujudkan ketahanan pangan serta energi nasional.(*)

Social Footer