GENKEBUN.COM – Selama ratusan tahun, cengkeh menjadi bagian dari identitas budaya dan ekonomi masyarakat Maluku Utara. Kini, tanaman rempah tersebut menghadapi ancaman akibat kematian tanaman dan perubahan pilihan komoditas petani.
Tanaman cengkeh lokal tumbuh di perkebunan masyarakat Halmahera Selatan.(Foto: Ilustrasi)
Dalam satu dekade terakhir, kematian tanaman cengkeh dalam jumlah besar terjadi di Kabupaten Halmahera Selatan. Bersamaan dengan itu, sebagian petani mulai mengganti cengkeh dengan kelapa karena biaya pemanenan tinggi dan tenaga kerja semakin sulit diperoleh.
Dilansir dari laman Biogen BRMP, keragaman cengkeh lokal masih ditemukan di sejumlah wilayah Maluku Utara, termasuk Desa Madopolo, Pulau Bisa, Kabupaten Halmahera Selatan, dengan karakteristik tanaman yang beragam.
Di Desa Madopolo, masyarakat mengenal cengkeh lokal dengan bentuk pohon menyerupai jambu, daun lebar, dan buah yang tidak pedas. Ada pula tanaman dengan batang halus dan kecil yang hingga kini belum diketahui atau teridentifikasi jenisnya.
Keragaman cengkeh juga ditemukan di Desa Kou, Pulau Kasiruta. Di wilayah tersebut masih terdapat hamparan cengkeh tua yang luasnya diperkirakan tiga kali lebih besar dibandingkan Pulau Bisa, termasuk pohon induk yang dikenal sebagai Zanzibar.
Selain Zanzibar, Pulau Bacan dikenal memiliki Cengkeh Sibela atau Sibela Bunga Cengkeh. Kabupaten Halmahera Selatan juga memiliki Cengkeh AFO yang telah dilepas sebagai varietas unggul lokal.
Keberadaan berbagai karakter cengkeh tersebut menunjukkan masih tersimpannya keragaman cengkeh lokal di sejumlah wilayah. Namun, berbagai jenis tersebut belum sepenuhnya terpetakan dan terdokumentasi sebagai kekayaan cengkeh Maluku Utara.
Di sisi lain, perubahan iklim menjadi salah satu tekanan terhadap keberlanjutan tanaman cengkeh. Tantangan tersebut juga berkaitan dengan menurunnya minat generasi muda serta pertimbangan ekonomi petani dalam mempertahankan cengkeh.
Biaya pemanenan yang tinggi dan semakin sulitnya mendapatkan tenaga kerja turut memengaruhi pilihan petani. Sebagian kemudian mengganti cengkeh dengan kelapa, sehingga keberadaan sejumlah tanaman cengkeh lokal menghadapi tekanan yang semakin besar.
Upaya konservasi pun tidak hanya berkaitan dengan keberadaan tanaman cengkeh. Forum konsultasi menilai konservasi perlu mencakup sistem sosial, ekonomi, dan budaya yang melekat pada cengkeh sebagai bagian dari identitas masyarakat Maluku Utara.
Melalui Crop Diversity Conservation for Sustainable Use in Indonesia (CDCSUI), konservasi cengkeh dilakukan untuk menjaga keragaman sumber daya genetik sekaligus mendorong pemanfaatannya secara berkelanjutan.
Upaya tersebut mencakup pemetaan sumber daya genetik, perlindungan pohon induk, penguatan budidaya, serta pengembangan rantai nilai dan hilirisasi. Berbagai kegiatan itu menjadi bagian dari upaya menjaga keberadaan cengkeh lokal Maluku Utara.
Penguatan rantai nilai juga diperlukan agar petani memiliki daya tawar yang lebih baik. Dengan tetap memiliki nilai ekonomi, cengkeh dapat dipertahankan sebagai tanaman yang dibudidayakan sekaligus bagian dari keragaman lokal.
Ketika satu pohon cengkeh hilang, yang ikut terancam bukan hanya tanaman tersebut. Keragaman sumber daya genetik dan warisan cengkeh yang tersimpan di berbagai wilayah Maluku Utara juga dapat ikut berkurang.(*)
Social Footer