Breaking News

Produksi Padi Hadapi Ancaman Iklim, BRIN Usulkan Paket Teknologi Terintegrasi

Badan Riset dan Inovasi Nasional menggelar Webinar Teras-TP #2 di Cibinong, Kamis (3/9/2026).(Foto: BRIN)
GENKEBUN.COM – Produksi padi di Indonesia menghadapi tantangan perubahan iklim yang dapat memengaruhi hasil panen. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong penerapan paket teknologi terintegrasi.

Konsep produksi padi cerdas iklim mencakup tiga tujuan utama, yaitu produktivitas, adaptasi, dan mitigasi. Ketiganya menjadi bagian yang saling berkaitan dalam menghadapi tantangan iklim dan dampak lingkungan.

Peneliti Postdoctoral Pusat Riset Tanaman Pangan (PRTP) BRIN, Edi Wiraguna, menyebut ketiga tujuan tersebut perlu berjalan beriringan agar peningkatan produksi tetap mampu menghadapi perubahan kondisi iklim.

“Ketiganya harus berjalan beriringan agar peningkatan produksi tetap mampu menjawab tantangan iklim sekaligus menekan dampak lingkungan,” ujar Edi, dikutip dari laman BRIN.

Untuk mencapai tujuan tersebut, produksi padi cerdas iklim dapat memadukan berbagai pendekatan yang disesuaikan dengan kondisi lingkungan serta kebutuhan petani di masing-masing wilayah.

Pendekatan itu meliputi penggunaan varietas adaptif, pengelolaan air dan hara secara efisien, peningkatan kualitas tanah, pengendalian hama terpadu, hingga pemanfaatan teknologi digital dalam budi daya padi.

Pemanfaatan teknologi digital dapat didukung melalui sensor, pesawat nirawak atau drone, satelit, dan data cuaca yang membantu petani memperoleh informasi untuk mengambil keputusan.

“Teknologi digital akan memberikan manfaat ketika informasi yang dihasilkan bersifat lokal, tepat waktu, mudah dipahami, dan terhubung langsung dengan pengambilan keputusan oleh petani,” kata Edi.

Selain teknologi digital, salah satu pendekatan yang digunakan adalah alternate wetting and drying (AWD) atau pengairan berselang untuk membantu menghemat air sekaligus mengurangi emisi metana dari sawah.

Kepala PRTP BRIN, Yudhistira Nugraha, mengingatkan bahwa capaian cadangan beras nasional yang mendekati lima juta ton tetap menghadapi risiko akibat perubahan kondisi iklim.

“BMKG telah memberikan peringatan bahwa musim kemarau 2026 datang lebih awal dan diperkirakan lebih kering dari biasanya. Capaian cadangan beras merupakan kabar baik, tetapi tetap rentan apabila kita tidak siap,” ujarnya.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan peringatan mengenai musim kemarau 2026 yang datang lebih awal dan diperkirakan lebih kering dari biasanya.

Di sisi lain, produksi padi menghadapi persoalan dua arah. Tanaman padi terdampak perubahan iklim, sedangkan sistem produksinya juga berkontribusi terhadap emisi gas rumah kaca, terutama metana dari lahan sawah.

Pengelolaan hama dan penyakit secara terpadu juga menjadi bagian dari pendekatan tersebut melalui kombinasi varietas tahan, praktik budi daya yang tepat, pengendalian biologis, serta penggunaan pestisida secara bijak.

BRIN menyebut intervensi dalam produksi padi tidak bertumpu pada satu teknologi. Berbagai teknologi perlu dipadukan dan disesuaikan dengan kondisi serta kebutuhan setempat.(*)

Type and hit Enter to search

Close