Breaking News

Budidaya Kakao Makin Produktif, Penyerbukan Jadi Perhatian

 

Penyuluh memberikan penjelasan budi daya kakao yang berkelanjutan kepada petani di ajang Festival Kakao Tangguh 2026 yang digelar PT Syngenta di Kabupaten Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara, 15-16 September 2026. ANTARA/HO-Syngenta Indonesia


GENKEBUN.COM—Budidaya kakao terus didorong agar semakin produktif sekaligus tetap memperhatikan keberlanjutan lingkungan. Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah proses penyerbukan tanaman kakao yang berperan dalam pembentukan buah.

  Hal tersebut menjadi fokus dalam Festival Kakao Tangguh 2026 yang digelar di Kabupaten Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara, pada 15–16 September 2026. Kegiatan ini memberikan edukasi kepada petani mengenai optimalisasi penyerbukan, keanekaragaman hayati, serta praktik budidaya kakao yang lebih berkelanjutan.

   Dalam kegiatan tersebut, lebih dari 300 petani dan 50 penyuluh pertanian dari Kolaka Utara dan wilayah sekitarnya ikut mendapatkan pelatihan. Materi yang diberikan antara lain mengenai serangga penyerbuk, serangga yang bermanfaat bagi tanaman, serta pentingnya menjaga keanekaragaman hayati di perkebunan kakao.

  Presiden Direktur Syngenta Indonesia, Eryanto, mengatakan bahwa praktik budidaya berkelanjutan perlu terus didorong untuk mendukung produktivitas tanaman kakao.

“Kami terus membersamai petani dalam mendorong praktik berkelanjutan yang dapat mendukung produktivitas tanaman kakao.”

   Selain penyerbukan alami, petani juga diperkenalkan dengan polinasi manual atau penyerbukan yang dilakukan dengan bantuan manusia. Kegiatan tersebut menjadi salah satu bagian dari Festival Kakao Tangguh, bersama dengan lomba bobot buah kakao.

    Tidak hanya itu, pendekatan agroforestri juga diperkenalkan kepada petani. Sistem ini mengombinasikan tanaman kakao dengan tanaman lainnya sehingga dapat membantu menjaga keanekaragaman hayati sekaligus membuka peluang tambahan bagi petani melalui pemilihan tanaman yang sesuai.

   Kabupaten Kolaka Utara sendiri memiliki potensi kakao yang cukup besar. Produksi kakao di daerah tersebut mencapai sekitar 65.000 ton per tahun, dengan produktivitas sekitar 1,2 ton per hektare dan luas areal perkebunan sekitar 78.969 hektare.

 Melalui peningkatan pengetahuan, keterampilan, dan penerapan praktik budidaya yang memperhatikan ekosistem, pengembangan kakao diharapkan dapat terus berjalan secara produktif dan berkelanjutan. Bagi petani, pemahaman mengenai proses penyerbukan dan kondisi lingkungan kebun menjadi salah satu bagian penting dalam menjaga produktivitas tanaman kakao.

Type and hit Enter to search

Close