Breaking News

Tingkatkan Daya Saing Daerah, BRIN Dorong Hilirisasi Komoditas Perkebunan Berbasis Potensi Lokal

BRIN menggelar Science to Policy Dialogue tentang hilirisasi perkebunan di Jakarta, Selasa (11/8/2026).(Foto: BRIN)

GENKEBUN.COM – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong pengembangan komoditas perkebunan lokal melalui hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah, pendapatan petani, dan daya saing ekonomi daerah.

Sejumlah komoditas yang memiliki peluang untuk dikembangkan meliputi kakao, jambu mete, kelapa, kopi, sagu, aren, pala, cengkeh, hingga kelapa sawit melalui berbagai produk olahan bernilai ekonomi.

Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Ekonomi Industri, Jasa, dan Perdagangan BRIN, La Sinaini, menyebut kekayaan komoditas perkebunan dapat dikembangkan lebih lanjut melalui riset, inovasi, dan kebijakan hilirisasi yang tepat.

“Indonesia memiliki kekayaan komoditas perkebunan yang luar biasa. Dengan riset, inovasi, dan kebijakan hilirisasi yang tepat, kita bisa menjadikan perkebunan sebagai motor penggerak ekonomi berkelanjutan, ” ujar La Sinaini, dikutip dari laman BRIN.

Pengembangan produk hilir mencakup jambu mete menjadi kacang mete goreng dan panggang dengan berbagai varian rasa, kakao menjadi cokelat batangan dan bubuk, serta kopi menjadi kopi bubuk dan kopi instan.

Pembahasan mengenai pengembangan hilirisasi tersebut berlangsung dalam Science to Policy Dialogue bertema “Hilirisasi Perkebunan Berkelanjutan untuk Meningkatkan Nilai Tambah dan Daya Saing Ekonomi Daerah” di Jakarta.

“Hilirisasi Perkebunan Berkelanjutan untuk Meningkatkan Nilai Tambah dan Daya Saing Ekonomi Daerah,” menjadi tema Science to Policy Dialogue yang digelar Pusat Riset Ekonomi Industri, Jasa, dan Perdagangan BRIN di Jakarta.

Selain itu, kelapa dapat diolah menjadi minyak kelapa dan Virgin Coconut Oil (VCO), sedangkan sagu dapat dikembangkan menjadi tepung dan bioetanol. Aren juga dapat diolah menjadi gula cetak, gula bubuk, dan kolang-kaling.

Di Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara, jambu mete telah diolah menjadi kacang mete goreng, kacang mete panggang, hingga pia kacang mete oleh sejumlah pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah.

Pelaku usaha di Muna juga mengolah kelapa menjadi VCO serta aren menjadi gula aren cetak dan bubuk. Produk perkebunan lainnya yang berkembang di daerah tersebut adalah kopi Kahawa Wuna.

Pengembangan produk tersebut masih menghadapi kendala berupa ketersediaan bahan baku berkelanjutan, keterbatasan modal, dan peralatan pengolahan yang dibutuhkan pelaku usaha di daerah.(*)

Type and hit Enter to search

Close