![]() |
| Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual dalam Pitching Session Produk Indikasi Geografis di Jakarta International Convention Center, Jakarta, Minggu (23/8/2026). |
GENKEBUN.COM – Produk indikasi geografis Indonesia kembali menunjukkan taringnya di panggung internasional setelah Teh Java Preanger menarik minat investor asal Belanda dalam ajang Karya Kreasi Indonesia (KKI) 2026.
Minat tersebut muncul dalam sesi Pitching Session Produk Indikasi Geografis yang digelar di Jakarta International Convention Center (JICC) pada Minggu, 23 Agustus 2026, melalui pertemuan dengan calon buyer.
Sesi tersebut mengangkat tema mengenai Lada Putih Muntok dan Teh Java Preanger, sekaligus menjadi wadah pertemuan produk berindikasi geografis dengan calon buyer dan pasar global.
“Jejak Kualitas: Menggali Cita Rasa Lada Putih Muntok dan Teh Java Preanger ,” ujar Rohayati, dikutip dari laman Kementerian Hukum Republik Indonesia Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual.
Rohayati, pemilik Teh Java Preanger, menyampaikan kepuasannya atas hasil business matching tersebut. Produk teh kelolaannya berhasil menarik minat buyer dari Belanda yang merupakan pemasok jaringan kafe di berbagai wilayah Eropa.
Ketertarikan buyer tersebut berkaitan dengan pencarian produk yang telah memiliki sertifikat indikasi geografis resmi. Teh Java Preanger ditemukan melalui penelusuran web dan kemudian masuk dalam pembahasan kerja sama bisnis.
“Buyer dari Belanda ini sebetulnya supplier kafe-kafe di seluruh Belanda, bahkan sampai ke Paris. Mereka mencari produk yang sudah bersertifikat indikasi geografis resmi melalui penelusuran web, dan bertemulah dengan Teh Java Preanger. Untuk tahap awal ini, mereka meminta kesepakatan order (signing) sekitar 100 kilogram produk green tea steaming (sencha powder). Jika respons pasarnya besar, mereka berencana memperluas distribusinya ke negara-negara Eropa lainnya ,” ujar Rohayati.
Selain pesanan awal tersebut, Teh Java Preanger telah dipasarkan ke Jerman dan Inggris melalui Twining. Produk ini juga dikembangkan ke sejumlah varian kosmetik, termasuk anti-aging dan lip balm.
Pada sesi yang sama, Lada Putih Muntok turut dipresentasikan oleh Badan Pengelolaan Pengembangan dan Pemasaran Lada (BP3L) Bangka Belitung. Komoditas tersebut memiliki tingkat kepedasan dan aroma khas yang berkaitan dengan kadar piperin 5–7 persen.
Lada Putih Muntok juga telah memperoleh sertifikat indikasi geografis dari Uni Eropa pada 2024. Pengakuan tersebut memberikan kepastian hukum bagi produk sekaligus membuka peluang kerja sama maklon atau kontrak manufaktur bagi pelaku usaha.(*)

Social Footer