GENKEBUN.COM – Mekanisasi pertanian di Jawa Tengah diterapkan melalui pola kerja terintegrasi yang dikenal sebagai sistem sepur. Pola tersebut menggabungkan sejumlah mesin dalam rangkaian pekerjaan di lahan sawah.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dalam kegiatan panen raya dan mekanisasi pertanian di Kabupaten Sukoharjo, Rabu (24/6/2026).
Sistem sepur mencakup penggunaan mesin panen, pengolah tanah, penyemprot dekomposer, dan mesin tanam secara berurutan. Dengan pola tersebut, lahan dapat segera ditanami kembali setelah proses panen selesai.
Penerapan mekanisasi itu juga berkaitan dengan pengelolaan lahan di Desa Mojorembun, Kecamatan Kaliori, Kabupaten Rembang. Kelompok Tani Budi Luhur mengelola sekitar 35 hektare lahan dengan dukungan irigasi perpompaan dan alat mesin pertanian.
“Sejak mendapat bantuan irpom, petani di sini bisa merasakan panen tiga kali,” ujar Karyono, dikutip dari laman Jatengprov. Sebelumnya, lahan tersebut hanya dapat ditanami padi satu kali dalam setahun.
Setelah memperoleh dukungan irigasi perpompaan dan alat mesin pertanian, petani di wilayah tersebut dapat menanam padi hingga tiga kali dalam setahun. Produksinya berada pada kisaran 7–7,5 ton padi per hektare.
Modernisasi pertanian di Jawa Tengah tidak hanya mencakup penggunaan alat mesin pertanian. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga memberikan dukungan melalui bantuan benih, sarana produksi, irigasi, serta pengelolaan kelompok tani.
Pengelolaan kelompok tani mencakup rangkaian kegiatan dari pembibitan hingga pascapanen. Hal tersebut disampaikan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi saat menjelaskan pengelolaan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan).
“Gapoktan kita openi, dari mulai pembibitan, pemupukan, sampai pascapanen,” kata Ahmad Luthfi. Pernyataan tersebut disampaikan dalam pembahasan mengenai pengelolaan kelompok tani dan produksi pertanian.
Pada sistem sepur, mesin panen, pengolah tanah, penyemprot dekomposer, dan mesin tanam digunakan secara berurutan. Untuk lahan seluas dua hektare, pekerjaan manual yang membutuhkan hingga 10 hari dapat diselesaikan dalam satu hari.
Ketersediaan sarana produksi juga berkaitan dengan distribusi hasil pertanian. Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Jawa Tengah Defransisco Dasilva Tavares menyampaikan hal tersebut saat membahas produksi pertanian di Jawa Tengah.
“Yang perlu menjadi perhatian berikutnya adalah distribusi, agar surplus ini bisa merata dan menjaga stabilitas harga,” ujarnya. Pernyataan tersebut disampaikan terkait produksi pertanian yang perlu diimbangi distribusi hasil panen.
Pada 2026, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menyiapkan bantuan benih dan sarana produksi padi untuk lahan seluas 47.200 hektare. Dukungan juga mencakup komoditas jagung, kedelai, cabai, dan bawang merah.
Selain itu, penguatan sarana pertanian mencakup rehabilitasi 334 paket jaringan irigasi tersier, pembangunan 75 paket irigasi perpipaan, serta distribusi mesin tanam padi, traktor, pompa air, dan combine harvester.(*)
Social Footer