![]() |
GENKEBUN.COM – Panen perdana program Pertanian Modern-Advanced Agricultural System (PM-AAS) di Blok Suket Baju, Desa Plosokerep, Kecamatan Terisi, Kabupaten Indramayu, mencatat produktivitas padi rata-rata 10,45 ton per hektare.
Angka tersebut diperoleh berdasarkan pengukuran Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Indramayu melalui lima titik ubinan. Pengukuran dilakukan pada lahan dengan varietas dan kelompok tani yang berbeda.
Kepala BPS Kabupaten Indramayu Januarto Wibowo menjelaskan, hasil pengukuran menunjukkan produktivitas yang berbeda pada setiap titik ubinan. Rata-rata dari lima titik tersebut mencapai 10,45 ton per hektare.
“Sehingga kalau dirata-ratakan ini istimewa, yaitu 10,45 ton per hektare,” ujar Januarto, dikutip dari laman Diskominfo Indramayu.
Hasil pengukuran mencatat Kelompok Tani Bina Tani 2 dengan varietas Inpari 32 menghasilkan 8,44 ton per hektare. Sementara itu, Tani Makmur dengan varietas Ciherang mencapai 12,35 ton per hektare.
Kelompok Tani Bina Tani 3 dengan varietas Inpari 32 mencatat hasil masing-masing 9,09 ton dan 11,74 ton per hektare. Adapun Bina Tani 4 dengan varietas yang sama menghasilkan 10,65 ton per hektare.
Kepala Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Jawa Barat Detia Tri Yunandar menyebut produktivitas lahan PM-AAS sebelumnya berada di kisaran 3–6 ton per hektare dan dapat meningkat hingga sekitar 10 ton.
“Pelaksanaannya didukung 11 unit pompa, 8 unit irigasi perpompaan, 1 unit combine harvester, dan satu unit drone sprayer. Penanaman dimulai Mei 2026, sedangkan panen berlangsung bertahap sejak 19 Agustus 2026,” jelasnya.
Dari sisi usaha tani, biaya produksi pada lahan tersebut meningkat dari sekitar Rp15 juta menjadi Rp20 juta per hektare. Sementara tambahan pendapatan diperkirakan mencapai Rp24 juta dengan harga gabah Rp6.500 per kilogram.
Pada harga gabah Rp8.500 per kilogram, tambahan pendapatan diperkirakan mencapai Rp32 juta per hektare. Di sisi lain, Bupati Indramayu Lucky Hakim menyebut capaian tersebut melampaui target awal produktivitas sebesar 8 ton per hektare.
“Dari yang tadinya sekitar 5 sampai 6 menjadi 8 ton. Alhamdulillah berkah. Ternyata pas diukur oleh BPS juga tadi sudah dapat angka 10 ton lebih,” katanya.
Lucky juga menyampaikan bahwa penerapan teknologi dan modernisasi pertanian menjadi bagian dari peningkatan produksi. Ia menyebut hasil tersebut dapat menjadi semangat bagi petani untuk memanfaatkan teknologi pertanian.
“Ini tentu menjadi semangat dan optimisme bagi kita semua, khususnya para petani, untuk terus meningkatkan produksi dan memanfaatkan teknologi pertanian,” ujarnya.
Hasil ubinan tersebut selanjutnya dapat menjadi bahan pemantauan produktivitas pertanian sekaligus mendukung ketersediaan data pertanian yang lebih terukur.(*)

Social Footer