![]() |
OR Arbastra BRIN dalam rangkaian Carita 5 Kota yang berlangsung di Jakarta, Selasa (5/8/2026) Jakarta, GENKEBUN.COM – Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra (OR Arbastra) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkuat kolaborasi riset kebudayaan melalui program Carita 5 Kota pada 2026.
Carita 5 Kota merupakan bagian dari Monitoring dan Evaluasi (Monev) Riset dan Inovasi OR Arbastra Tahun 2026 yang berlangsung di Padang, Jakarta, Yogyakarta, Denpasar, dan Makassar.
Dilansir dari laman (BRIN), temuan tersebut diperkuat oleh Peneliti BRIN Eri Sudewo yang mengungkapkan bahwa penelitian di Bongal menemukan berbagai artefak berskala internasional, seperti koin Dinasti Umayyah dan Abbasiyah, serta bukti ekofak berupa pala dan cengkih.
Temuan tersebut dibahas dalam sesi diskusi ilmiah yang memaparkan hasil penelitian maritim di Kawasan Stasiun Lapangan (KSL) Bongal dan kawasan Pantai Barat Sumatra, termasuk aktivitas pelayaran Nusantara.
Data ekofaktual berupa pala dan cengkih menjadi bagian dari temuan penelitian yang menunjukkan bahwa jaringan perdagangan rempah Nusantara telah terhubung secara global sejak abad ke-9 hingga ke-10 Masehi.
Penelitian di Bongal juga menemukan sisa-sisa kapal yang menggunakan teknologi lokal. Temuan itu menjadi bagian dari bukti aktivitas pelayaran Nusantara dalam jaringan perdagangan pada masa tersebut.
Selain pala dan cengkih, penelitian di Bongal menemukan koin dari Dinasti Umayyah dan Abbasiyah. Temuan artefak tersebut menjadi bagian dari data arkeologi yang berkaitan dengan jaringan perdagangan lintas wilayah.
Rangkaian temuan tersebut dipaparkan dalam kegiatan Carita 5 Kota, yang mempertemukan periset OR Arbastra dari berbagai wilayah sekaligus membuka ruang pertukaran informasi mengenai hasil penelitian.
Carita 5 Kota mempertemukan periset dari berbagai Lokasi Kerja Eksternal (LKE) dan kawasan penugasan terdekat melalui lima kota, sehingga kegiatan riset dan koordinasi dapat berlangsung lintas wilayah.
Selain forum internal, kegiatan tersebut turut mempertemukan OR Arbastra dengan Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA), perguruan tinggi, Balai Pelestarian Kebudayaan, Balai Bahasa, serta Kementerian Agama.
Sejumlah isu turut dibahas dalam rangkaian kegiatan, mulai dari penelitian manuskrip, tradisi lisan, pelestarian bahasa daerah, hingga penguatan kebijakan berbasis bukti. Usulan riset lintas wilayah juga muncul.
Di Yogyakarta, peserta memperoleh informasi mengenai rencana pengembangan Kawasan Stasiun Lapangan (KSL) Liyangan sebagai bagian dari penguatan ekosistem riset OR Arbastra. Pertemuan Denpasar membahas kemitraan berkelanjutan.
Sementara itu, forum di Makassar menghasilkan berbagai inisiatif kolaborasi dalam pelestarian bahasa daerah bersama mitra strategis. Kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari rangkaian Carita 5 Kota.
Pada hari pertama, OR Arbastra memaparkan hasil riset unggulan 2025 melalui empat model yang mencakup identitas multikultural, urban heritage, tata kelola data digital manuskrip, serta dokumentasi bahasa.
Rangkaian kegiatan juga memuat pemaparan peluang pendanaan melalui skema Riset dan Inovasi Indonesia Maju (RIIM) Kompetisi serta Program Riset Inovasi Strategis (PRIS) dari Direktorat Pendanaan Riset dan Inovasi (DPRI).(*) |

Social Footer