Masoem University dalam artikel tentang kakao dan cokelat yang dimuat di halaman resmi universitas, Senin (10/08/2026).
GENKEBUN.COM – Cokelat merupakan salah satu produk pangan yang paling digemari di dunia. Mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, hampir semua orang mengenal cita rasa khasnya yang kaya dan nikmat.
Di balik produk cokelat, terdapat biji kakao (Theobroma cacao) yang mengandung berbagai senyawa bioaktif. Tanaman ini dibudidayakan di sejumlah wilayah tropis, termasuk berbagai daerah perkebunan di Indonesia.
Kakao memiliki perjalanan panjang sebelum diolah menjadi produk pangan. Kandungan senyawa bioaktif serta tahapan pengolahan menjadi bagian penting yang memengaruhi karakteristik produk kakao dan cokelat.
“Saat mendengar kata cokelat, banyak orang langsung membayangkan makanan manis yang menggoda. Namun di balik kelezatannya, terdapat biji kakao yang kaya akan senyawa bioaktif, antioksidan, dan sejarah panjang yang menjadikannya salah satu komoditas pangan paling berharga di dunia. Bagi Indonesia, kakao bukan sekadar bahan baku cokelat, melainkan aset strategis yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk pangan fungsional bernilai tinggi.” ujar Masoem University, dikutip dari laman Masoem University.
Kakao berasal dari kawasan hutan hujan tropis Amerika Tengah dan Amerika Selatan sebelum menyebar ke berbagai wilayah tropis dunia. Indonesia menjadi salah satu negara yang membudidayakan tanaman kakao.
Di Indonesia, kakao banyak dibudidayakan di Sulawesi, Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, dan Papua. Sebagian besar produksi nasional berasal dari perkebunan rakyat yang berperan dalam perekonomian masyarakat.
Sebelum menjadi cokelat, biji kakao melalui sejumlah tahapan pengolahan yang memengaruhi mutu, aroma, cita rasa, serta kandungan senyawa bioaktif pada produk akhirnya. Setiap tahap memiliki pengaruh terhadap karakteristik produk.
Tahapan tersebut meliputi panen, pemecahan buah, fermentasi, pengeringan, sortasi, penyangraian, pengupasan kulit, penggilingan menjadi cocoa liquor, hingga pemisahan lemak kakao atau cocoa butter untuk menghasilkan berbagai produk kakao.
Kakao mengandung flavanol, katekin, epikatekin, polifenol, serat pangan, magnesium, zat besi, kalium, tembaga, dan mangan. Semakin tinggi kadar kakao dalam produk, umumnya semakin tinggi pula kandungan senyawa bioaktifnya.
Namun, proses pengolahan dan formulasi produk turut memengaruhi jumlah senyawa yang tersisa. Kadar flavanol dapat berkurang selama pengolahan, terutama akibat suhu tinggi atau proses alkalisasi (Dutch process).
Selain senyawa bioaktif, kakao mengandung serat pangan dan sejumlah mineral penting. Lemak kakao didominasi asam stearat, asam oleat, serta asam palmitat yang memberikan karakteristik unik pada tekstur cokelat.(*)
Social Footer