![]() |
| BRMP Biogen memuat kegiatan pengembangan padi lokal Lek Tejo di Desa Kemantren, Blora, Selasa (18/8/2026). |
Kegiatan itu dilakukan dengan mengamati karakter tanaman, memilih tanaman dengan sifat unggul, lalu mempertahankan dan mengembangkan hasil seleksi tersebut dari satu musim tanam ke musim berikutnya.
Dilansir dari laman BRMP, Lek Tejo mengembangkan padi Mentik Susu, padi hitam Cempo Ireng, padi merah, serta padi HSM sebagai bagian dari kekayaan sumber daya genetik tanaman pangan lokal.
Padi HSM menjadi salah satu hasil seleksi yang mendapat perhatian Lek Tejo. Berdasarkan pengamatannya, padi tersebut memiliki bulir lebih banyak dan padat, dengan umur panen yang relatif lebih cepat.
Pengalaman bertahun-tahun di lapangan membuat Lek Tejo memahami karakter, asal-usul, serta keunggulan berbagai jenis padi yang ditanam dan dikembangkan melalui seleksi benih secara mandiri.
Bagi Lek Tejo, benih juga memiliki nilai sejarah, budaya, dan potensi ekonomi bagi petani. Karena itu, pemeliharaan benih lokal menjadi bagian dari upaya menjaga keberagaman sumber daya genetik tanaman.
Pemeliharaan tersebut dilakukan melalui seleksi, penyimpanan, penanaman kembali, serta pertukaran pengetahuan mengenai benih lokal. Kegiatan itu dapat dilakukan dari tingkat petani melalui proses yang sederhana dan konsisten.
Kemandirian dalam menghasilkan dan mempertahankan benih juga berkaitan dengan upaya mengurangi ketergantungan petani terhadap sumber benih dari luar serta menentukan benih yang sesuai dengan kondisi agroekosistem setempat.
Selain mengembangkan benih, Lek Tejo juga menerapkan sistem budidaya padi secara organik. Budidaya tersebut membutuhkan pengetahuan dan ketekunan dalam mengelola kesuburan tanah serta ekosistem pertanian secara alami.
Bagi Lek Tejo, pertanian organik berkaitan dengan kepedulian terhadap lingkungan, upaya menghasilkan pangan yang lebih sehat, serta menjaga keberlanjutan lahan pertanian yang dikelolanya.
Pengembangan pertanian organik yang dilakukan Lek Tejo berjalan bersama kegiatan pemeliharaan benih lokal. Kedua kegiatan tersebut menjadi bagian dari praktik pertanian yang dijalankannya di Desa Kemantren, Blora.
Kegiatan Lek Tejo menunjukkan bahwa pengembangan benih dapat dilakukan berdasarkan pengalaman dan pengetahuan petani di lapangan, termasuk melalui pengenalan karakter tanaman dan seleksi benih secara mandiri.
Praktik tersebut juga berkaitan dengan konservasi plasma nutfah di tingkat petani. Prosesnya mencakup seleksi, penyimpanan, penanaman kembali, serta pertukaran pengetahuan mengenai benih lokal yang dikembangkan.
Dari Desa Kemantren, Blora, Lek Tejo mengembangkan padi lokal melalui proses seleksi benih dan budidaya organik. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upayanya mempertahankan sumber daya genetik tanaman pangan.(*)

Social Footer