![]() |
| Pemerintah Provinsi Gorontalo bersama PT Royal Coconut saat kunjungan Dubes UEA di Kabupaten Gorontalo, Selasa (11/8/2026).(Foto: Gorontaloprov) |
GENKEBUN.COM – Potensi hilirisasi kelapa di Gorontalo mulai dilirik Uni Emirat Arab (UEA). Duta Besar UEA untuk Republik Indonesia Abdulla Salem Aldhaheri mengunjungi PT Royal Coconut, Selasa (11/8/2026).
Kunjungan berlangsung di Desa Ombulo, Kecamatan Limboto Barat, Kabupaten Gorontalo. Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail bersama sejumlah pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD) Pemerintah Provinsi Gorontalo turut hadir dalam kegiatan tersebut.
Direktur PT Royal Coconut Jefri Yakobus menjelaskan perusahaan saat ini memiliki kapasitas 400 ton bahan baku untuk produksi. Kelapa yang diolah menghasilkan air kelapa, santan kelapa, minyak kelapa, dan tepung kelapa.
“Intinya kami sangat welcome cuma memang produk yang kami tawarkan seperti minyak kelapa ditimur tengah khususnya di Uni Emirat Arab itu mereka suplainya dari India, tetapi menyangkut lagi tentang kerja sama itu akan kita tindaklanjuti dengan Pemprov, Beliau (Dubes) juga sangat welcome dengan industri padat karya dan hilirisasi , Pak Gubernur juga sampaikan ulang-ulang, kita kembangkan terus hilirisasi,” ujar Jefri, dikutip dari laman Gorontaloprov.
Kebutuhan bahan baku menjadi salah satu pembahasan terkait pengembangan industri kelapa. PT Royal Coconut membutuhkan kerja sama dengan Pemerintah Provinsi Gorontalo untuk ketersediaan lahan penanaman kelapa.
Untuk mendukung kebutuhan tersebut, Pemerintah Provinsi Gorontalo telah menjalin kerja sama dengan Kementerian Pertanian melalui program pengembangan kelapa seluas 10.000 hektare. Lahan tersebut dapat berproduksi dalam dua tahun mendatang.
Pembahasan kerja sama juga berkaitan dengan rencana penyampaian proposal komprehensif untuk pengembangan industri kelapa kepada Kedutaan Besar UEA sebagai bagian dari upaya memperkenalkan peluang tersebut kepada pemodal dari Uni Emirat Arab.
“Kami ingin menkoneksikan para pemodal dari Emirat Arab untuk usaha seperti ini, tadi dijelaskan terkait kapasitas produksi juga hambatan dalam penerimaan bahan baku, itu kalau bisa ditemukan kesamaan antara pemodal Emirat Arab dan pengusaha serta dari pihak pemprov, beliau berpikir itu bisa menjadi suatu kerja sama yang sangat bagus untuk dilaksanakan,” ujar Dubes Abdulla melalui juru bahasa.
Dalam penjelasan PT Royal Coconut, dari 40 ton kelapa yang diolah setiap hari, pabrik dapat menghasilkan 10 ton minyak kelapa, 10 ton air kelapa, dan 15 ton santan kelapa. Produk lainnya berupa tepung kelapa.
Rencana pengembangan industri tersebut berkaitan dengan ketersediaan bahan baku kelapa di Gorontalo. Program pengembangan kelapa seluas 10.000 hektare menjadi bagian dari pembahasan kebutuhan lahan untuk mendukung pasokan bahan baku.
Pada akhir kunjungan, Pemerintah Provinsi Gorontalo dan PT Royal Coconut diminta menyiapkan proposal komprehensif mengenai pengembangan industri kelapa. Proposal itu akan disampaikan kepada Kedutaan Besar UEA untuk dipasarkan di wilayah Uni Emirat Arab dan menarik pemodal yang berminat bergabung.(*)

Social Footer