![]() |
Cengkih Hutan Maluku memiliki potensi genetik untuk mendukung pengembangan varietas adaptif terhadap kekeringan dan suhu tinggi. GENKEBUN.COM – memiliki salah satu plasma nutfah cengkih lokal yang oleh masyarakat setempat disebut cengkih Hutan. Cengkih Hutan tergolong tipe liar yang ditemukan di beberapa wilayah Pulau Ambon, Maluku. Keberadaan cengkih Hutan menjadi bagian dari sumber daya genetik tanaman cengkih di Maluku. Karakter tersebut dikaji karena perubahan iklim dapat memengaruhi pertumbuhan, produktivitas, dan kualitas hasil cengkih. Dilansir dari laman (jurnal.polbangtanmanokwari), A.A. Istri Mirah Dharmadewi, Kadek Yuniari Suryatini, I. Gusti Ayu Rai, I.W. Suanda, Gusti Agung Gede Wiadnyana, I.G.A. Trisna Jayantika. 2025. Uji Efektivitas Ekstrak Daun Cengkeh (Syzygium aromaticum L.) dalam Menghambat Pertumbuhan Jamur Apergillus Niger. Kajian berjudul Peran Cengkih Hutan dalam Strategi Pengembangan Perkebunan Cengkih Adaptif terhadap Perubahan Iklim tersebut membahas potensi cengkih Hutan sebagai sumber daya genetik untuk pengembangan varietas adaptif. Artikel tersebut merupakan kajian literatur yang mensintesis hasil penelitian terkait keragaman genetik, kemampuan adaptasi terhadap cekaman lingkungan, serta ketahanan tanaman cengkih terhadap hama dan penyakit. Perubahan iklim ditandai peningkatan suhu global, perubahan pola curah hujan, dan meningkatnya kejadian cuaca ekstrem. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi keberlanjutan produksi tanaman cengkih di berbagai wilayah. Dalam kajian itu, cengkih Hutan memiliki potensi sebagai sumber gen toleransi terhadap kekeringan, suhu tinggi, dan kondisi lingkungan marginal yang dapat dimanfaatkan dalam pemuliaan tanaman. Karakter adaptif tersebut juga berkaitan dengan upaya memperluas basis genetik varietas cengkih budidaya. Keragaman genetik menjadi salah satu unsur penting dalam pengembangan tanaman yang mampu menghadapi perubahan lingkungan. Pemanfaatan cengkih Hutan mencakup beberapa kegiatan, yaitu eksplorasi, karakterisasi, konservasi, serta integrasi dengan teknologi pemuliaan modern. Rangkaian tersebut menjadi bagian dari pengelolaan sumber daya genetik tanaman. Pengembangan varietas adaptif dapat berkaitan dengan kemampuan mempertahankan produktivitas dan stabilitas produksi ketika tanaman menghadapi perubahan kondisi lingkungan. Kajian tersebut menempatkan sumber daya genetik sebagai bahan pemuliaan. Cengkih Hutan juga tercatat sebagai tipe liar yang ditemukan di beberapa wilayah Pulau Ambon. Keberadaannya menjadi sumber plasma nutfah lokal yang menyimpan keragaman genetik untuk pengembangan cengkih. Pelestarian sumber daya genetik cengkih Hutan menjadi bagian dari pemanfaatan plasma nutfah secara berkelanjutan. Kajian tersebut mengaitkannya dengan pengembangan perkebunan cengkih yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim. Selain kekeringan dan suhu tinggi, kajian mencakup kondisi lingkungan marginal serta ketahanan terhadap hama dan penyakit. Aspek tersebut menjadi bagian dari karakter yang diperhatikan dalam pengembangan varietas. Pemanfaatan plasma nutfah cengkih Hutan dapat dilakukan melalui karakterisasi dan konservasi sebelum diintegrasikan dengan teknologi pemuliaan. Tahapan tersebut diperlukan untuk mengenali karakter tanaman yang memiliki nilai pemuliaan. Kajian mengenai cengkih Hutan memperlihatkan hubungan antara konservasi sumber daya genetik dan pengembangan varietas cengkih adaptif. Hasil sintesis literatur menjadi dasar untuk pemanfaatan plasma nutfah lokal secara berkelanjutan.(*) |

Social Footer