Breaking News

Cegah Kepunahan Durian Unggul Purworejo, Tim FMIPA UNNES Lakukan Ekplorasi DNA hingga Grafting


FMIPA UNNES melaksanakan eksplorasi durian unggul Purworejo di Kecamatan Kaligesing, Purworejo, pada Sabtu (01/08/2026) hingga Minggu (02/08/2026). 

GENKEBUN.COM – Eksplorasi selama dua hari menggabungkan fingerprint DNA, pembuatan duplikat pohon induk melalui grafting atau top working, serta koleksi herbarium untuk menjaga plasma nutfah durian unggul Purworejo.

Tim penelitian Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang (FMIPA UNNES) melakukan eksplorasi pada 1–2 Agustus 2026 di sejumlah lokasi di Kecamatan Kaligesing, Purworejo, untuk mengkaji keragaman morfologi dan genetika durian unggul lokal.

Dilansir dari laman (universitas negri semarang), Jika pohon induk mati sebelum identitas genetiknya direkam dan bahan vegetatifnya diperbanyak, genotipe unggul tersebut dapat hilang secara permanen. Karena itu, ranting sehat yang berhasil diperoleh dari eksplorasi segera diperlakukan sebagai sumber entres untuk grafting dan/atau top working. Dengan langkah ini, konservasi tidak hanya berbentuk data DNA, tetapi juga berupa pohon duplikat yang dapat dipelihara sebagai cadangan sumber genetik dan sumber entres masa depan.

Di sisi lain, sampel daun diseleksi untuk ekstraksi DNA dan diberi kode yang terhubung dengan data paspor, koordinat, foto, dan karakter morfologi. Integrasi data tersebut diharapkan menghasilkan fingerprint yang dapat membedakan aksesi, mengungkap pola keragaman genetika, dan membantu menetapkan pohon induk prioritas untuk konservasi.

Penelitian tersebut dipimpin Prof. Dr. Ir. Amin Retnoningsih, M.Si., bersama Prof. Dr. Enni Suwarsi Rahayu, M.Si., Dr. Andin Irsadi, S.Pd., M.Si., Dra. Ely Rudyatmi, M.Si., dan Amnan Haris, S.Si., M.Ling. Lima mahasiswa Biologi juga terlibat dalam kegiatan lapangan.

Di lokasi eksplorasi, tim mendapati pohon induk tunggal durian juara tidak selalu tumbuh di area yang mudah dijangkau. Sebagian berada di bukit dengan lereng cukup terjal, sementara lainnya tumbuh di lembah curam.

Jarak antarpohon juga cukup berjauhan. Meski masih berada dalam kecamatan yang sama, perjalanan dari satu pohon menuju pohon berikutnya dapat memerlukan waktu lebih dari 30 menit.

Pohon yang dikunjungi berukuran sangat besar, dengan lingkar batang lebih dari 1,5 meter dan perkiraan umur lebih dari 75 tahun. Tingginya mencapai sekitar 30–40 meter, sementara daun dan ranting produktif banyak berada di bagian atas tajuk.

Kondisi tersebut membuat pengambilan ranting dan daun untuk kebutuhan DNA, herbarium, maupun entres tidak mudah. Tim mendapat bantuan pemanjat lokal berpengalaman untuk mencapai ranting produktif di bagian atas pohon.

Dari setiap pohon, tim mengumpulkan tiga jenis material yang saling melengkapi, yakni daun sehat untuk ekstraksi DNA, ranting sehat sebagai entres, serta material botani untuk voucher herbarium jika tersedia.

Analisis DNA menggunakan fingerprint berbasis Inter Simple Sequence Repeat (ISSR). Setiap sampel daun diberi kode yang terhubung dengan data paspor, koordinat, foto, dan karakter morfologi pohon yang menjadi sumber sampel.

Data tersebut digunakan untuk memetakan keragaman genetika dan mendeteksi kemungkinan aksesi yang identik atau duplikat. Hasilnya juga menjadi bahan untuk membantu menentukan pohon induk yang memiliki prioritas dalam kegiatan konservasi.

Ranting sehat yang dikumpulkan dari pohon induk disiapkan sebagai sumber entres untuk grafting dan top working. Perbanyakan vegetatif ini memungkinkan genotipe pohon juara dibuat dalam bentuk duplikat hidup.

Duplikat tersebut dapat dipelihara sebagai cadangan sumber genetik sekaligus sumber entres pada masa mendatang. Upaya ini penting karena sejumlah pohon induk yang ditemukan merupakan pohon tua yang belum memiliki duplikat memadai.

Selain material untuk DNA dan perbanyakan vegetatif, tim juga mengumpulkan bahan untuk voucher herbarium. Spesimen tersebut digunakan untuk menambah koleksi Herbarium Semarangense di Universitas Negeri Semarang (UNNES) sekaligus mendukung dokumentasi ilmiah setiap aksesi.

Eksplorasi ini didukung Dana Pengembangan Akademik Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang tahun 2026. Kegiatan melibatkan dosen, mahasiswa Biologi, petani durian setempat, pendamping lokal, dan pemilik pohon.

Melalui penelitian “Fingerprint Durian Unggul Purworejo, Jawa Tengah”, material genetik, vegetatif, dan botani dari pohon induk didokumentasikan. Data tersebut menjadi dasar untuk mengenali aksesi unik nonduplikat, menetapkan prioritas konservasi, serta menyediakan sumber entres durian unggul yang identitasnya dapat ditelusuri.(*)


Type and hit Enter to search

Close