![]() |
| Pemerintah Kabupaten Gunungkidul melaksanakan Penerapan Pengelolaan Hama Terpadu Padi Sawah bersama Kelompok Tani Sido Guyub di Gunungkidul, Senin (20/7/2026).(Foto: Diskominfo Gunungkidul) |
GENKEBUN.COM – Pemerintah Kabupaten Gunungkidul mengembangkan inovasi mina padi berbasis polybag melalui kegiatan Penerapan Pengelolaan Hama Terpadu (PPHT) Padi Sawah Tahun 2026. Program ini menjadi bagian dari upaya memperkenalkan teknologi budidaya yang mampu membantu petani meningkatkan produktivitas lahan secara lebih efisien dan ramah lingkungan.
Kegiatan yang digelar di Kelompok Tani Sido Guyub, Dusun Gedaren I, Kalurahan Sumbergiri, Kapanewon Ponjong, Senin (20/7/2026), tidak hanya membahas pengendalian organisme pengganggu tanaman, tetapi juga memperkenalkan berbagai inovasi pertanian berkelanjutan yang dikembangkan petani setempat.
Dalam kesempatan tersebut, Wakil Bupati Gunungkidul Joko Parwoto menyampaikan pentingnya inovasi, kolaborasi, dan semangat gotong royong dalam mendukung kemajuan sektor pertanian. Pesan itu disampaikan bersamaan dengan pengenalan berbagai inovasi budidaya yang diterapkan di wilayah tersebut.
“Melalui inovasi, kolaborasi, dan semangat gotong royong, pertanian Gunungkidul harus mampu menjadi sektor yang semakin maju, mandiri, dan berdaya saing. Pemerintah daerah akan terus memberikan dukungan agar lahan-lahan yang selama ini kurang produktif dapat menjadi sumber kesejahteraan bagi masyarakat,” ujar Joko, dikutip dari laman Diskominfo Gunungkidul.
Salah satu inovasi yang diperkenalkan ialah sistem mina padi berbasis polybag. Teknologi ini dirancang untuk mengoptimalkan lahan tadah hujan sekaligus membantu petani yang memiliki keterbatasan lahan maupun tenaga kerja dalam kegiatan budidaya.
Selain pengenalan teknologi budidaya, pelatihan juga memuat materi mengenai pembuatan pupuk organik serta pengendalian hama secara hayati. Pendekatan tersebut menjadi bagian dari upaya mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia dan pestisida sintetis.
Pelatihan turut membahas pengendalian hama tikus yang masih menjadi ancaman bagi produksi padi. Petani memperoleh pemahaman mengenai reproduksi dan perilaku tikus, serta pentingnya pengendalian secara serentak agar perpindahan populasi ke lahan lain dapat diminimalkan.
Beberapa metode pengendalian hama yang diperkenalkan dalam kegiatan tersebut meliputi:
penggunaan umpan beracun dengan reaksi bertahap;
pembuatan asap belerang atau emposan secara mandiri sebagai alternatif yang lebih hemat biaya;
penerapan pengendalian hama secara alami sesuai kondisi lahan.
Pada kesempatan yang sama, Pemerintah Kabupaten Gunungkidul juga memperkenalkan gagasan pertanian kuantum sebagai simbol transformasi sektor pertanian melalui penerapan teknologi dan inovasi untuk meningkatkan produktivitas tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan.
Program PPHT juga menjadi wadah untuk mendorong pembangunan lahan percontohan yang produktif, efisien, dan memiliki nilai edukasi. Lahan tersebut diproyeksikan menjadi media penerapan berbagai inovasi sekaligus memperkenalkan pengembangan pertanian kepada masyarakat dan calon investor.
Melalui pelaksanaan PPHT serta pengembangan inovasi mina padi berbasis polybag, Pemerintah Kabupaten Gunungkidul berupaya memperkuat ketahanan pangan daerah sekaligus meningkatkan produktivitas pertanian melalui penerapan teknologi yang sesuai dengan karakteristik wilayah.(*)

Social Footer