![]() |
| DGL Learning Institute menggelar Pelatihan Panen dan Pascapanen bagi pekebun kelapa sawit asal Kabupaten Morowali di Palu, Sabtu (20/06/2026). |
Palu, GENKEBUN.COM – DGL Learning Institute menggelar Pelatihan Panen dan Pascapanen bagi pekebun kelapa sawit asal Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, di Kota Palu, Sabtu (20/6/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan kapasitas sumber daya manusia (SDM) di sektor perkebunan sawit.
Pelatihan tersebut diselenggarakan melalui kerja sama dengan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian. Kolaborasi ini difokuskan pada peningkatan kompetensi teknis pekebun agar mampu menerapkan praktik budidaya yang lebih baik.
Sebanyak 60 pekebun dari Kabupaten Morowali mengikuti pelatihan yang membahas teknik panen dan penanganan pascapanen sesuai standar industri. Materi yang diberikan diharapkan dapat membantu meningkatkan kualitas tandan buah segar (TBS) sekaligus pendapatan pekebun.
Direktur Utama PT Daya Guna Lestari, M. Gema Aliza Putra, mengatakan proses panen merupakan tahapan yang sangat menentukan kualitas hasil produksi kelapa sawit. Menurutnya, penerapan teknik yang tepat akan berdampak langsung terhadap nilai ekonomi yang diterima petani.
Panen adalah titik penting yang menentukan hasil dan pendapatan pekebun. Jika panen dilakukan dengan benar, mutu TBS akan lebih baik. Jika pasca panen dilakukan dengan tepat, maka nilai ekonomi yang diterima petani juga akan lebih optimal,” ujar Gema.
Selama pelatihan, peserta memperoleh pembekalan mengenai teknik memanen buah sesuai standar mutu pabrik, termasuk cara memotong tandan dan menangani hasil panen agar kualitasnya tetap terjaga. Materi disusun secara aplikatif sehingga mudah diterapkan di kebun masing-masing.
Selain pembelajaran di dalam kelas, peserta juga mengikuti kunjungan lapangan ke PT Mamuang yang merupakan bagian dari grup Astra Agro Lestari. Kegiatan ini memberikan kesempatan bagi peserta untuk melihat langsung penerapan praktik panen dan pascapanen di tingkat operasional.
Melalui kunjungan tersebut, para pekebun dapat membandingkan materi yang dipelajari di kelas dengan praktik di lapangan. Mereka juga diperkenalkan pada pentingnya disiplin kerja, penerapan standar operasional, serta upaya menjaga kualitas TBS sejak dipanen hingga dikirim ke pabrik.
Dalam pelatihan ini, peserta juga mendapat penjelasan mengenai pentingnya penanganan pascapanen, mulai dari pengelolaan brondolan hingga kecepatan pengangkutan hasil panen. Tahapan tersebut dinilai berpengaruh terhadap mutu TBS dan harga jual yang diterima pekebun.
Gema menegaskan pelatihan tidak hanya ditujukan untuk menambah pengetahuan teknis, tetapi juga mendorong perubahan pola pikir dan cara kerja pekebun dalam mengelola usaha perkebunan secara lebih profesional.
“Kami tidak ingin peserta hanya hadir, duduk, mendengar, lalu pulang membawa sertifikat. Kami ingin peserta benar-benar mendapatkan ilmu. Yang paling penting adalah bagaimana setelah pelatihan ini selesai, ada perubahan cara melihat kebun, perubahan cara bekerja, dan peningkatan kemampuan dalam mengelola usaha perkebunan,” jelasnya.
Untuk mendukung keberlanjutan program, DGL Learning Institute memanfaatkan sistem digital Learning Management System (LMS) sebagai sarana pemantauan dan evaluasi perkembangan kompetensi peserta setelah pelatihan selesai.
Pemantauan tersebut juga dilengkapi dengan kajian terhadap kondisi kebun peserta untuk mengidentifikasi berbagai tantangan yang dihadapi di lapangan. Hasil evaluasi selanjutnya menjadi dasar penyusunan program pendampingan yang lebih sesuai dengan kebutuhan pekebun.
“Sertifikat bisa disimpan di map, tetapi ilmu akan hidup di kebun. Yang paling penting adalah bagaimana ilmu yang diperoleh selama pelatihan dapat diterapkan dan membawa perubahan nyata bagi pekebun,” tegasnya.(*)

.jpeg)
Social Footer