![]() |
| Peserta Program SDM Perkebunan bersama DGL Learning Institute mengikuti pembelajaran Organisasi dan Sistem Panen, Banda Aceh, Selasa (09/06/2026). (Foto: GENKEBUN) |
Banda Aceh, GENKEBUN.COM – DGL Learning Institute membekali petani kelapa sawit Aceh dengan pemahaman mengenai organisasi dan sistem panen dalam Pelatihan Panen dan Pascapanen Kelapa Sawit Program SDM Perkebunan Tahun 2026.
Kegiatan yang didukung Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian RI tersebut menghadirkan praktisi perkebunan Toto Suryanto sebagai pemateri utama.
Dalam pemaparannya, Toto menjelaskan bahwa keberhasilan kegiatan panen tidak hanya ditentukan oleh kemampuan memotong tandan buah segar (TBS), tetapi juga pengelolaan organisasi panen yang baik.
Ia menilai administrasi panen memiliki peran penting sebagai alat pengawasan dan pengendalian dalam operasional perkebunan sehingga seluruh kegiatan dapat berjalan sesuai target yang ditetapkan.
Administrasi merupakan kegiatan pencatatan yang dilakukan secara prosedural, sistematis, dan berkelanjutan sehingga menghasilkan informasi yang akurat, mutakhir, dan dapat dipercaya sebagai pedoman kerja serta alat pengawasan dalam pengelolaan pekerjaan," ujar Toto.
Selain administrasi panen, peserta juga mendapatkan pemahaman mengenai sistem panen, mulai dari pengaturan interval dan rotasi panen hingga pembagian area kerja panen atau kapveld.
Materi tersebut diberikan untuk membantu peserta memahami pentingnya perencanaan dan pengorganisasian pekerjaan panen agar produktivitas kebun tetap terjaga serta kualitas hasil panen dapat dipertahankan.
Pada sesi berikutnya, peserta mempelajari berbagai faktor yang memengaruhi prestasi pemanen, termasuk pengalaman, keterampilan teknis, kondisi fisik, serta motivasi kerja dalam menjalankan tugas panen.
Toto menjelaskan bahwa kompetensi pemanen memiliki hubungan erat dengan kemampuan mengenali tingkat kematangan buah sehingga berpengaruh terhadap efisiensi kerja dan hasil panen yang diperoleh.
"Prestasi pemanen tidak hanya ditentukan oleh kemampuan fisik, tetapi juga pemahaman terhadap standar panen dan pengelolaan waktu kerja. Semakin baik kompetensi pemanen, semakin tinggi pula kualitas dan produktivitas hasil panen yang dapat dicapai," ujarnya.
Antusiasme peserta terlihat selama sesi berlangsung melalui berbagai pertanyaan mengenai sistem pengelolaan panen, kapasitas pemanen, basis panen, serta penerapan manajemen panen yang dapat diterapkan di kebun masing-masing.(*)

Social Footer