![]() |
| (Foto: Kementan- Genkebun.com) |
Jakarta, GENKEBUN.COM – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengumpulkan 170 bupati seluruh Indonesia di Jakarta pada Jumat (01/05/2026) untuk mengonsolidasikan anggaran Rp3 triliun guna modernisasi irigasi dan penguatan sektor perkebunan nasional.
Langkah strategis ini bertujuan mengamankan produksi pangan melalui rehabilitasi jaringan irigasi serta optimalisasi lahan (oplah). Pemerintah pusat memprioritaskan bantuan pompanisasi bagi daerah yang memiliki kepala daerah aktif dalam mengawal program lapangan.
Dalam pertemuan tersebut, Mentan menjelaskan rincian alokasi dana yang tidak hanya menyasar tanaman pangan, tetapi juga sektor perkebunan strategis. Anggaran besar disiapkan sebagai hibah untuk mendukung kesejahteraan masyarakat tani di berbagai wilayah.
“Anggarannya Rp9,95 triliun, hampir Rp10 triliun, dan ini hibah untuk rakyat,” ujar Amran, dikutip dari laman Kementan, Jumat (1/05/2026).
Pemerintah turut menyinggung penurunan produktivitas komoditas perkebunan, khususnya tebu, yang menjadi perhatian serius saat ini. Beliau membandingkan efektivitas produksi masa lalu dengan kondisi riil tata kelola pada era kemerdekaan sekarang.
“Dulu waktu dijajah, kerja paksa, tidak digaji, makan seadanya, tapi produksi tebu bisa 14 ton. Sekarang sudah merdeka, ada pemerintah, ada bupati, justru turun jadi 4–5 ton. Di mana salahnya?” ujarnya.
Kementerian Pertanian (Kementan) memetakan beberapa poin krusial dalam program penguatan infrastruktur dan komoditas pertanian 2026 sebagai berikut:
Alokasi Rp3 triliun untuk rehabilitasi irigasi dan pompanisasi.
Penyediaan 80 ribu unit pompa air untuk 1 juta hektare lahan.
Cetak sawah baru seluas 30 ribu hektare di wilayah potensial.
Distribusi anggaran dilakukan secara selektif berbasis respons serta komitmen pemerintah daerah (pemda). Wilayah yang menunjukkan kecepatan pelaksanaan program akan menerima percepatan bantuan benih tahan kekeringan serta peningkatan indeks pertanaman secara masif.
Mentan kemudian memberikan penjelasan mengenai akar masalah rendahnya produktivitas pertanian nasional. Pihaknya meminta para bupati mengambil tanggung jawab penuh dalam memperbaiki aspek teknis pelaksanaan anggaran yang sudah didistribusikan ke daerah.
“Nah sudah, jawabannya pelaksanaan. Kalau rendemen rendah, solusinya permanen, bongkar, ganti bibit. Kalau produktivitas rendah, petani tidak untung, tidak bisa beli pupuk. Ini lingkaran yang harus kita putus,” ujarnya.
Saat ini cadangan pangan nasional berada pada posisi aman dengan stok mencapai 5 juta ton. Total ketersediaan pangan termasuk cadangan rumah tangga diprediksi mampu mencukupi kebutuhan nasional hingga sebelas bulan ke depan.
Program hibah perkebunan senilai Rp9,95 triliun menyasar pengembangan lahan seluas 870 ribu hektare pada tahun 2026-2027. Sinergi antara pemerintah pusat dan 170 bupati menjadi penentu utama stabilitas produksi komoditas tebu hingga kopi.

Social Footer