![]() |
| Manajemen PTPN IV PalmCo bersama mitra pelaksana meninjau lokasi proyek energi hijau di Kabupaten Simalungun pada Selasa (24/02/2026). |
Sumatera Utara, GENKEBUN.COM – PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IV PalmCo menjadwalkan pembangunan 16 unit pabrik Compressed Biomethane Gas (CBG) serentak pada awal 2027 untuk mengolah limbah cair dari 17 Pabrik Kelapa Sawit (PKS) miliknya.
Langkah ekspansi masif ini merupakan bentuk percepatan transisi Energi Baru Terbarukan (EBT) setelah keberhasilan proyek perdana di Simalungun. Perusahaan menggandeng PT Renikola sebagai mitra pelaksana guna mengonversi limbah menjadi energi bernilai ekonomi tinggi.
Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K. Santosa, menjelaskan bahwa strategi sirkular ekonomi ini bertujuan memaksimalkan nilai tambah dari setiap residu produksi. Ia memandang kolaborasi teknologi ini sebagai motor penggerak ekonomi bagi masyarakat.
“Pembangunan 16 pabrik CBG yang terintegrasi dengan 17 PKS kami ini adalah bukti keseriusan kami. Kami tidak melihat limbah sawit sebagai residu, melainkan sebagai sumber daya energi masa depan yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Dengan menggandeng PT Renikola, kami mengonversi tantangan lingkungan menjadi peluang energi dan yang terpenting, peluang bagi tenaga kerja lokal,” ujar Jatmiko, dikutip dari laman PTPN 4, Selasa (24/02/2026).
Mengenai dampak sosial, Jatmiko menyebutkan bahwa penyerapan tenaga kerja dalam jumlah besar menjadi prioritas utama. Fase konstruksi hingga operasional pabrik akan membuka banyak lapangan kerja baru berbasis lingkungan bagi penduduk di sekitar wilayah operasional.
“Ini bukan sekadar pekerjaan konstruksi biasa. Ini adalah Green Jobs. Setelah pabrik berdiri dan dioperasionalkan, kami membutuhkan tenaga ahli dan operator yang kompeten untuk menjalankan teknologi biometana ini. Estimasi kami, setiap pabrik akan diawaki oleh 8 hingga 10 personel tetap. Artinya, PTPN IV PalmCo turut andil dalam mencetak talenta-talenta baru yang siap bersaing di era ekonomi hijau,” kata Jatmiko menjelaskan.
Proyek strategis ini tersebar di dua provinsi utama, yakni Sumatera Utara dan Banten. Di Sumatera Utara, pembangunan mencakup wilayah Kabupaten Simalungun, Serdang Bedagai, Labuhan Batu, serta Labuhan Batu Selatan, sementara ekspansi Banten menyasar Kabupaten Lebak.
Rincian estimasi penyerapan tenaga kerja dan kapasitas produksi yang diproyeksikan dalam proyek ini adalah sebagai berikut:
Potensi penyerapan 800 hingga 1.600 pekerja pada fase konstruksi di 16 lokasi.
Kapasitas produksi gas biometana sebesar 75.000 hingga 200.000 MMBTu per unit tiap tahunnya.
Jatmiko memaparkan kontribusi besar dari penggunaan teknologi ini terhadap target lingkungan nasional. Pemanfaatan biomassa tersebut diproyeksikan mampu menggantikan peran bahan bakar fosil secara signifikan dan mengurangi emisi gas rumah kaca di sektor perkebunan.
“Jika ke-16 pabrik ini beroperasi penuh, kami mengestimasi potensi pengurangan emisi karbon mencapai 350.000 Ton CO2 ekuivalen (CO2e) per tahun. Ini angka yang sangat besar dan menjadi kontribusi nyata PTPN IV PalmCo untuk Indonesia yang lebih bersih,” ungkap Jatmiko.
Inisiatif ini mendukung pencapaian target penurunan emisi nasional sebesar 140 juta ton CO2e pada 2030. Ketentuan tersebut selaras dengan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 194 Tahun 2025 sebagai bagian komitmen Nationally Determined Contribution (NDC).
PTPN IV PalmCo saat ini fokus menyelesaikan tahap percepatan konstruksi pilot project di PKS Tinjowan yang direncanakan beroperasi pada kuartal IV/2026. Keberhasilan proyek awal tersebut menjadi acuan standar operasional untuk belasan pabrik baru nantinya.(*)

Social Footer