![]() |
| (Foto: Its- Genkebun.com) |
Indonesia, GENKEBUN.COM – Tim peneliti Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) sukses mengembangkan inovasi bensin sawit (Benwit) sebagai solusi energi hijau untuk mesin pertanian guna mewujudkan kemandirian teknologi nasional di Surabaya.
Langkah ini diambil untuk menjawab tantangan krisis energi global dan tekanan situasi geopolitik dunia. Inovasi tersebut memanfaatkan minyak sawit mentah sebagai bahan baku utama pembuatan bahan bakar nabati siap pakai.
Dilansir dari laman its, Kamis (30/04/2026), pengembangan katalis bimetalik berbasis nikel oksida dan tembaga oksida berhasil menurunkan suhu operasi hingga 380 derajat Celsius serta meningkatkan rendemen bensin nabati hingga 83 persen.
Proses produksi ini menggunakan metode pemecahan molekul menggunakan katalis atau catalytic cracking untuk memutus rantai karbon. Teknik tersebut secara efektif mengubah molekul besar pada minyak sawit menjadi molekul lebih kecil.
Berikut adalah beberapa keunggulan teknis dari hasil riset bahan bakar alternatif yang didanai oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) tersebut:
Menghasilkan hidrokarbon rantai pendek pada rentang C5 hingga C11.
Memiliki karakteristik yang setara dengan komponen utama bensin komersial.
Meminimalkan residu produksi melalui pemanfaatan kembali produk sampingan.
Jejak karbon sangat rendah sesuai prinsip penilaian siklus hidup atau Life Cycle Assessment (LCA).
Tim peneliti menggunakan senyawa kimia nikel oksida (NiO) untuk memutus rantai karbon pada minyak mentah kelapa sawit atau Crude Palm Oil (CPO). Sementara itu, tembaga oksida (CuO) berfungsi menghilangkan kandungan oksigen.
Pemanfaatan residu cair juga menjadi fokus utama dalam sistem produksi minim limbah ini. Cairan sisa yang memiliki tekstur menyerupai minyak jelantah dapat dialihkan fungsinya sebagai bahan bakar alternatif untuk kompor.
Selain residu cair, sebagian produk sampingan yang berupa gas dapat diputar kembali. Gas tersebut digunakan sebagai sumber energi pemanas reaktor dalam proses konversi bahan bakar di dalam laboratorium penelitian.
Penerapan teknologi inovatif ini selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). Fokusnya berada pada poin energi bersih terjangkau serta pola konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab.
Implementasi awal teknologi ini menyasar pada mesin-mesin pertanian yang memiliki tingkat fleksibilitas modifikasi tinggi. Pilihan tersebut memudahkan para petani untuk beradaptasi dengan penggunaan bensin nabati tanpa kendala teknis besar.
Kemandirian teknologi dalam memproduksi bahan bakar diharapkan mampu menekan ketergantungan pada alat produksi luar negeri. Saat ini produsen minyak dan gas nasional masih banyak menggunakan mesin dari pihak asing.
Direktorat Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRPM) ITS berencana melakukan koordinasi dengan kementerian terkait. Hal ini bertujuan agar produk bensin nabati tersebut dapat segera diuji coba dalam skala proyek nasional.
Optimalisasi kapasitas produksi bensin nabati menjadi target pengembangan jangka panjang tim peneliti. Keberhasilan program ini akan memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus meningkatkan nilai tambah ekonomi bagi seluruh petani kelapa sawit.

Social Footer