Breaking News

Pangkas Biaya Olah Limbah 50 Persen, Profesor IPB Temukan Teknologi EC+ untuk Pabrik Sawit

(Foto: IPB- Genkebun.com)

 Bogor, GENKEBUN.COM – Profesor Suprihatin dari IPB University berhasil mengembangkan teknologi EC+ sebagai solusi pengolahan limbah cair pabrik kelapa sawit yang mampu memangkas biaya operasional hingga 50 persen di Bogor, Selasa (28/04/2026).

Inovasi berbasis elektrokoagulasi ini hadir untuk mengatasi persoalan lingkungan akibat pesatnya industri minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO). Teknologi tersebut memanfaatkan arus listrik searah guna menjernihkan air limbah secara efisien.

Dosen Departemen Teknologi Industri Pertanian tersebut menjelaskan bahwa metode lama pada pabrik kelapa sawit atau PKS masih memiliki banyak kekurangan. Hal ini terutama berkaitan dengan luas lahan dan durasi pengolahan.

“Selama ini limbah cair PKS umumnya diolah dengan sistem kolam anaerobik–aerobik konvensional. Namun pendekatan tersebut masih memiliki keterbatasan dari sisi efektivitas dan efisiensi,” ujar Suprihatin, dikutip dari laman IPB, Selasa (28/04/2026).

Teknologi EC+ bekerja dengan melepaskan ion positif dari elektroda untuk mengikat berbagai kontaminan berbahaya. Suprihatin memaparkan bahwa hasil akhir dari proses ini membuat air limbah menjadi sangat bersih serta jernih.

“Proses ini efektif menghilangkan TSS, COD, BOD, warna, minyak/lemak hingga nutrien seperti fosfat. Air limbah dapat menjadi bersih dan layak digunakan kembali. Keunggulan EC+ juga tidak hanya pada kinerja teknisnya, tetapi juga pada aspek lingkungan dan ekonomi,” ujarnya.

Metode elektrokimia ini tidak lagi memerlukan tambahan bahan kimia berbahaya seperti tawas dalam proses penjernihan. Berikut adalah beberapa keunggulan teknis utama dari inovasi teknologi pengolahan limbah cair kelapa sawit atau LCPKS:

  • Biaya pengolahan lebih hemat 50 persen dibanding metode koagulasi kimia.

  • Konsumsi energi listrik terukur hanya sebesar 9,80 kWh per meter kubik limbah.

  • Sistem bersifat modular sehingga mudah untuk ditingkatkan skalanya atau scale up.

  • Mampu menghasilkan endapan yang berguna sebagai pupuk organik atau pembenah tanah.

Setiap ton tandan buah segar atau TBS diketahui menghasilkan limbah cair sekitar 0,75 hingga 0,90 meter kubik. Tanpa penanganan tepat, polutan organik serta lemak tersebut berpotensi mencemari ekosistem di sekitar wilayah pabrik.

Suprihatin menyatakan bahwa teknologi ini mendukung penuh terciptanya industri hijau yang berkelanjutan. Air hasil olahan bahkan bisa dimanfaatkan kembali oleh pihak pabrik untuk keperluan mencuci peralatan hingga penyiraman tanaman perkebunan.

“Proses EC+ dapat menjadi komponen kunci dalam membentuk siklus tertutup air dan unsur hara, mengurangi penggunaan input pupuk sintetis, serta mendukung terwujudnya konsep zero waste di industri kelapa sawit,” ujarnya.

Hasil sampingan berupa lumpur atau sludge dapat dikombinasikan dengan arang hayati atau biochar hasil pirolisis tandan kosong. Sinergi ini akan memperkaya hara tanah sekaligus mengurangi ketergantungan petani pada penggunaan pupuk kimia.

Inovasi EC+ ini telah resmi terpilih masuk dalam jajaran 117 Inovasi Indonesia 2025. Penemuan tersebut diharapkan memberikan nilai tambah ekonomi sekaligus menjaga kelestarian lingkungan pada industri strategis nasional kelapa sawit.

Type and hit Enter to search

Close