![]() |
| (Foto: Kementan- Genkebun.com) |
Jakarta, GENKEBUN.COM – Kementerian Pertanian (Kementan) memulai langkah besar membangun pabrik etanol berbasis komoditas perkebunan dan pangan lokal. Proyek ini menjadi bagian dari strategi nasional menghadapi krisis energi global sekaligus memperkuat kedaulatan sektor pertanian.
Pemerintah memanfaatkan tebu, ubi kayu, dan jagung sebagai bahan baku utama pembuatan biofuel. Langkah ini diambil menyusul instruksi Presiden Prabowo Subianto untuk mengoptimalkan penggunaan bahan bakar nabati guna meredam lonjakan harga minyak dunia.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menjelaskan pencapaian sektor pangan nasional saat ini. Prestasi tersebut menjadi modal penting bagi pemerintah sebelum memulai ekspansi besar-besaran ke sektor hilirisasi industri pengolahan energi terbarukan di Indonesia.
“Melalui arahan Bapak Presiden, dukungan Komisi IV, dan kerja keras seluruh petani, Indonesia telah berhasil mencapai swasembada pangan dalam satu tahun. Produksi beras meningkat 4,07 juta ton sesuai data BPS atau 13,29%,” ujar Mentan, dikutip dari laman Kementan, Selasa (14/04/2026).
Amran Sulaiman merinci rencana implementasi kebijakan mandiri energi melalui pengembangan bahan bakar ramah lingkungan. Ia menyatakan bahwa penguatan industri etanol di dalam negeri akan memberikan dampak positif bagi pengurangan beban impor solar nasional.
“Kementerian Pertanian telah menyusun rencana implementasi B-50. Insyaallah, tahun ini Indonesia tidak akan impor solar sebanyak 5,3 juta ton. Ke depan, pemerintah juga akan mengimplementasikan pembangunan pabrik etanol dengan bahan baku dari ubi kayu, tebu, dan jagung,” jelasnya.
Selain fokus pada energi, Kementan mengamankan ketersediaan stok pangan strategis lainnya. Cadangan Beras Nasional (CBN) per 7 April 2026 mencapai 4,6 juta ton, yang merupakan jumlah tertinggi sepanjang sejarah untuk kebutuhan rakyat.
Stok pangan nasional berada dalam kondisi aman mencakup beberapa komoditas penting berikut:
Bawang merah, bawang putih, dan cabai.
Daging sapi, kerbau, serta ayam ras.
Telur ayam dan gula pasir konsumsi.
Ketua Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI), Titiek Soeharto, menyampaikan pandangannya terkait tantangan global. Beliau mengingatkan bahwa ancaman perubahan iklim dan dinamika geopolitik merupakan isu strategis yang harus segera ditangani.
“Kita dihadapkan pada ancaman nyata perubahan iklim yang telah mengganggu pola tanam, meningkatkan risiko gagal panen, serta menurunkan produktivitas pertanian dan perikanan. Prediksi terjadinya El Nino 2026 menjadi alarm serius bagi kita semua, mengingat pengalaman sebelumnya menunjukkan dampak signifikan terhadap penurunan produksi pangan nasional, terutama padi,” ungkap Titiek.
Pemerintah merespons ancaman kekeringan dengan menyiagakan 171 ribu unit alat dan mesin pertanian (alsintan) di berbagai wilayah. Selain itu, terdapat target penambahan 37 ribu unit alsintan baru pada sisa tahun anggaran 2026 ini.
Kementan menjalankan program prioritas seperti cetak sawah, optimasi lahan, dan perbaikan infrastruktur air secara masif. Langkah teknis ini diambil untuk memastikan stabilitas produksi pertanian nasional tetap terjaga di tengah fluktuasi iklim ekstrem.

Social Footer