![]() |
| (Foto: PPID- Genkebun.com) |
Jember, GENKEBUN.COM – Komunitas Titik Kumpul (Tikum) bersama Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Jember melaksanakan kunjungan lapangan ke sejumlah kelompok tani kopi, Minggu (26/04/2026), guna mengejar standar pasar ekspor.
Kegiatan ini bertujuan memperkuat ekosistem agribisnis melalui penerapan Good Agricultural Practices (GAP) secara masif di tingkat hulu. Fokus utama mencakup standarisasi kualitas biji kopi agar mampu bersaing pada pasar internasional yang kompetitif.
Kepala Bidang Perkebunan DTPHP Kabupaten Jember, Rudi Indrawan, menjelaskan bahwa kehadiran komunitas mitra bertujuan mempercepat alur distribusi informasi strategis kepada para petani. Langkah ini memitigasi ketertinggalan informasi mengenai kebijakan teknis dan pasar.
“Melalui Tikum, kami ingin memastikan informasi penting seperti kebijakan terbaru, bantuan pemerintah, hingga standar kualitas kopi bisa diterima petani dengan cepat dan tepat. Ini penting agar petani tidak tertinggal dalam perkembangan industri kopi," ujar Rudi, dikutip dari laman PPID, Minggu (26/04/2026).
Pemerintah daerah memfungsikan komunitas mitra sebagai instrumen edukasi lapangan yang efektif dalam memetakan kendala riil petani secara cepat. Pendekatan langsung di tengah perkebunan memudahkan penyaluran materi pemangkasan hingga pengendalian hama tanaman.
“Dengan turun langsung seperti ini, kami bisa melihat apa yang benar-benar dibutuhkan petani. Ini akan menjadi dasar dalam penyusunan program ke depan agar lebih tepat sasaran,” ujarnya saat meninjau kondisi riil pada area perkebunan rakyat.
Penerapan sertifikasi benih unggul kopi untuk menjamin produktivitas lahan.
Sosialisasi bantuan sarana produksi (saprodi) guna mendukung operasional petani.
Penguatan literasi agribisnis mengenai rantai pasok dan nilai ekonomi produk.
Modernisasi sektor perkebunan di Jember kini bergeser dari pola tradisional menuju pengelolaan berbasis data serta tren industri global. Sinergi lintas sektor memastikan ketersediaan pasokan kopi bermutu tinggi yang memenuhi kriteria ekspor nasional.
Interaksi teknis di lapangan memberikan perspektif baru bagi para pekebun mengenai pentingnya kualitas dibandingkan sekadar kuantitas produksi. Pengetahuan tentang preferensi pasar industri menjadi modal dasar dalam meningkatkan daya saing komoditas kopi lokal.
“Kami jadi tahu bagaimana cara meningkatkan kualitas kopi agar bisa bersaing. Selama ini kami hanya fokus menanam, tapi sekarang kami juga paham pentingnya kualitas dan pasar,” ujarnya memberikan tanggapan atas pendampingan teknis tersebut.
Dinas TPHP Kabupaten Jember mencatat potensi pengembangan jaringan pemasaran melalui skema kemitraan yang terintegrasi. Pemetaan potensi kelompok tani dilakukan secara akurat untuk memastikan distribusi bantuan pemerintah menjangkau sasaran yang tepat.
Kunjungan rutin ini menjadi fondasi utama dalam mewujudkan ekosistem kopi Jember yang berkelanjutan dan kompetitif. Penguatan kapasitas petani melalui standarisasi GAP merupakan instrumen krusial dalam memperluas jangkauan pasar ke tingkat mancanegara.

Social Footer