Breaking News

Harga Minyak Nilam Tembus Rp700 Ribu per Kg, Petani Aceh Jaya Gencar Perluas Lahan

Tanaman Nilam yang dibudidayakan petani di Desa Pante Ceureumen, Lamno, Aceh Jaya. (Foto : Dok.RRI/Dedy Heriansyah)

Aceh Jaya, GENKEBUN.COM – Petani di Desa Pante Ceureumen, Kecamatan Jaya, Kabupaten Aceh Jaya, mulai memperluas area tanam nilam menyusul kenaikan harga jual minyak atsiri yang kini mencapai angka Rp700 ribu per kilogram.

Komoditas penghasil minyak atsiri ini kembali menjadi primadona karena nilai ekonominya yang sangat tinggi. Minyak nilam menjadi bahan baku utama yang sangat laku pada berbagai sektor industri global saat ini.

Industri parfum, kosmetik, hingga farmasi skala nasional maupun internasional bergantung pada pasokan minyak nilam. Proses budidaya yang relatif mudah membuat masyarakat di wilayah Lamno beralih menggarap tanaman tersebut secara serius.

Salah seorang petani nilam di Desa Pante Ceureumen, Nurjanah, menjelaskan alasan dirinya bersama petani lain mulai meninggalkan tanaman palawija. Pengalaman bertani selama beberapa tahun terakhir memberikan bukti keuntungan yang nyata.

"Kami menanam Nilam ini sudah beberapa tahun terakhir ini. Kami nilam karena perawatannya mudah dan hasilnya cukup menguntungkan," ujar Nurjanah, dikutip dari laman rri.co.id, Selasa (13/01/2026).

Nurjanah menilai faktor iklim dan kontur tanah di wilayah Lamno sangat mendukung pertumbuhan tanaman. Kondisi alam yang tepat memungkinkan para petani mendapatkan hasil panen dengan kualitas minyak yang lebih optimal.

Keputusan untuk fokus pada perkebunan nilam diambil setelah keluarga Nurjanah merasakan perbedaan pendapatan yang signifikan. Sebelumnya, lahan pertanian di kawasan tersebut lebih banyak digunakan untuk menanam berbagai jenis tanaman palawija.

Produktivitas dan Pengolahan Pasca-Panen

Tanaman bernama latin Pogostemon cablin Benth ini memerlukan waktu sekitar enam bulan sebelum memasuki masa panen pertama. Perawatan intensif sangat menentukan kualitas daun yang nantinya berpengaruh pada kadar minyak saat penyulingan.

Proses pengolahan pasca-panen dilakukan secara tradisional namun tetap memperhatikan standar kualitas. Daun nilam yang telah dipanen harus melewati tahap pengeringan terlebih dahulu sebelum akhirnya dirajang menjadi potongan-potongan kecil untuk disuling.

  • Masa panen: 6 bulan setelah penanaman.
  • Estimasi hasil: 50 kg daun kering menghasilkan 1,5 kg minyak.
  • Harga pasar saat ini: Berkisar hingga Rp700 ribu per kilogram.

Hasil produksi minyak nilam tersebut biasanya langsung dibeli oleh para pengepul lokal atau pelaku usaha penyulingan minyak atsiri. Skema penjualan yang praktis ini memudahkan para petani dalam memperoleh perputaran modal usaha.

Keberhasilan budidaya nilam di wilayah Aceh Jaya berpotensi mengangkat pendapatan masyarakat di kawasan perdesaan secara berkelanjutan. Tanaman ini kini diproyeksikan menjadi salah satu komoditas unggulan bagi sektor perkebunan daerah tersebut.(*)

-----

Temukan kami di Google - Informasi dan berita perkebunan tersedia secara lengkap di Google, disini: www.google.com/genkebun.com.

Type and hit Enter to search

Close