Parigi Moutong, AGROMEDIA - Petani lokal Parigi Moutong menerima 8 juta bibit kakao sebagai bagian dari program hilirisasi perkebunan. Fokus utama diarahkan pada kelapa, kakao, dan pala, untuk meningkatkan nilai tambah dan produktivitas.
Kegiatan ini digelar melalui Diskusi Pengembangan Hilirisasi Komoditas Perkebunan, bekerja sama antara Kementerian Pertanian RI dan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah di Parigi Moutong, Jumat (31/10/2025).
Sekretaris Ditjen Perkebunan Kementan, Heru Tri Widarto, menekankan pentingnya hilirisasi untuk memperkuat industri dalam negeri dan membuka peluang ekonomi baru bagi petani.
“Melalui hilirisasi, kita tidak hanya menjual bahan mentah, tetapi menciptakan produk olahan bernilai tinggi, membuka lapangan kerja, dan memperkuat industri dalam negeri,” ujar Heru Tri Widarto, dikutip dari laman Disbunnak Sulteng, Selasa (5/11/2025).
Para petani yang menerima bantuan bibit mengaku terbantu menyiapkan lahan dan merencanakan produksi olahan kakao. Bantuan ini menjadi bagian nyata pengembangan perkebunan berkelanjutan di Parigi Moutong.
Selain bibit kakao, daerah ini juga menerima bantuan kelapa seluas 300 hektare dengan total 33.000 pohon. Dukungan ini dimaksudkan untuk meningkatkan diversifikasi produk dan potensi olahan lokal.
Diskusi pengembangan hilirisasi menghadirkan sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan kelompok tani. Kolaborasi ini memastikan komoditas perkebunan dapat diolah menjadi produk bernilai tinggi.
Heru Tri Widarto menambahkan, penguatan hilirisasi akan membuka peluang usaha baru bagi pelaku industri dan masyarakat. Produk olahan lokal bisa bersaing di pasar nasional maupun internasional.
Petani di beberapa kecamatan mulai menata kebun kakao yang didukung bibit sambung pucuk. Upaya ini sejalan dengan program hilirisasi untuk meningkatkan nilai jual komoditas secara langsung.
Selain kakao, kelapa menjadi komoditas prioritas yang mendapat perhatian. Bantuan 33.000 pohon kelapa akan ditempatkan di lahan siap olah untuk mendukung industri lokal.
Kolaborasi pemerintah dan kelompok tani menciptakan ekosistem perkebunan produktif. Petani memperoleh akses bibit, teknik budidaya, serta peluang memasarkan produk olahan, sekaligus mendorong perkembangan ekonomi lokal.***

Social Footer