Breaking News

Hadapi Musim Kering, Kementan Dorong Pekebun Kopi Terapkan Budidaya Adaptif

 


GENKEBUN.COM — Kementerian Pertanian (Kementan) memperkuat langkah antisipasi terhadap potensi musim kering yang diperkirakan berlangsung pada September hingga November 2026. Salah satu komoditas yang menjadi perhatian adalah kopi.

Melalui Direktorat Jenderal Perkebunan, pemerintah mendorong pekebun menerapkan pola budidaya yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim. Langkah ini dilakukan untuk membantu menjaga produktivitas dan kualitas kopi di tengah kondisi cuaca yang berubah-ubah.

Berdasarkan pemetaan potensi kekeringan dan sentra produksi kopi, sekitar 28 persen areal kopi pada wilayah yang dipetakan berpotensi mengalami kondisi kering selama periode September–November 2026. Namun, angka tersebut merupakan potensi berdasarkan prediksi iklim dan tidak berarti seluruh wilayah tersebut sudah mengalami kekeringan atau kerusakan tanaman.

Kondisi kebun di setiap daerah dapat berbeda karena dipengaruhi oleh curah hujan, ketersediaan air, karakteristik lahan, serta kemampuan pekebun dalam melakukan adaptasi. Karena itu, pemantauan kondisi tanaman tetap dilakukan agar langkah antisipasi dapat disesuaikan dengan keadaan di lapangan.

Sejumlah sentra kopi yang masuk dalam pemantauan antara lain berada di Lampung, Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Timur, Bali, Banten, Nusa Tenggara Barat, dan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Untuk menghadapi kondisi tersebut, Kementan mendorong penerapan Good Agricultural Practices (GAP) yang disesuaikan dengan kondisi iklim. Beberapa langkah yang dapat diterapkan meliputi konservasi tanah dan air, pengelolaan tanaman penaung, pemanfaatan bahan organik, serta teknik budidaya sesuai karakteristik wilayah.

Pengelolaan air menjadi salah satu perhatian penting dalam menghadapi periode kering. Pekebun juga dapat memanfaatkan sarana seperti rorak dan lubang biopori untuk membantu meningkatkan infiltrasi air dan mempertahankan ketersediaan air di dalam tanah.

Selain pengelolaan air, tanaman penaung juga memiliki peran dalam menjaga kondisi lingkungan di sekitar tanaman kopi. Pengelolaan yang tepat dapat membantu menjaga mikroklimat kebun dan mengurangi kehilangan air ketika kondisi lebih kering.

Pemerintah juga memperkuat penyediaan benih kopi yang adaptif terhadap perubahan iklim di sejumlah sentra produksi. Sosialisasi, pelatihan, serta pendampingan kepada pekebun dan petugas lapangan turut dilakukan agar informasi mengenai kondisi iklim dapat diterapkan dalam pengelolaan kebun.

Indonesia sendiri memiliki areal perkebunan kopi yang cukup luas. Berdasarkan Statistik Perkebunan 2024–2026, luas areal kopi Indonesia pada 2024 mencapai sekitar 1,27 juta hektare dan diproyeksikan meningkat menjadi sekitar 1,28 juta hektare pada 2026.

Dengan luasnya areal perkebunan tersebut, kesiapan menghadapi perubahan iklim menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan produksi kopi. Pemerintah terus mendorong agar langkah adaptasi tidak hanya dilakukan ketika kondisi ekstrem terjadi, tetapi menjadi bagian dari pengelolaan kebun sehari-hari.

Bagi pekebun kopi, pemanfaatan informasi cuaca, pengelolaan air, konservasi tanah, serta pemilihan bahan tanaman yang sesuai dapat menjadi bagian dari upaya menghadapi perubahan kondisi iklim.

Melalui berbagai langkah tersebut, Kementan berupaya menjaga produktivitas dan kualitas kopi nasional sekaligus memperkuat ketahanan perkebunan menghadapi perubahan iklim.

Sumber: Direktorat Jenderal P


erkebunan, Kementerian Pertanian

Type and hit Enter to search

Close