![]() |
| Pemerintah Kabupaten Banjarnegara meninjau hasil panen durian multirasa di kebun milik petani Desa Gembongan pada Senin (02/02/2026) - (Foto RRI.co.id) |
Pohon berusia satu abad ini menjadi pusat perhatian karena memproduksi varietas unggul seperti Musang King, Durian Hitam, Bawor, hingga Mimang. Keunikan tersebut lahir dari tangan dingin petani lokal yang menerapkan teknik penyambungan khusus.
Petani durian asal Desa Gembongan, Riyono, menjelaskan bahwa dirinya mulai melakukan inovasi pada tanaman tua miliknya. Langkah tersebut diambil guna mengoptimalkan potensi pohon lokal agar memiliki nilai jual tinggi di pasaran global.
“Sejak 2015, saya mulai menerapkan teknik top working atau penyambungan pada pohon durian tua. Teknik ini memungkinkan pohon lokal menghasilkan berbagai varian durian unggulan. Hanya dalam dua tahun, hasilnya sudah tampak, pohon mulai berbuah,” ujar Riyono, dikutip dari RRI.co.id, Senin (02/02/2026).
Riyono menambahkan bahwa produktivitas dan jumlah rasa yang muncul sangat bergantung pada dimensi fisik batang utama. Jumlah sambungan yang dilakukan menjadi penentu banyaknya variasi buah yang akan dipanen dalam satu musim tertentu.
“Saat ini, satu pohon durian di Desa Gembongan bisa menghasilkan antara lima sampai 20 varian sekaligus,” kata Riyono saat memberikan keterangan teknis mengenai hasil panen raya di kebun miliknya tersebut.
Penerapan teknik top working (TW) atau penyambungan bagian atas tanaman terbukti mempercepat masa produksi buah. Petani hanya membutuhkan waktu singkat dibandingkan menanam bibit baru dari awal yang memakan waktu bertahun-tahun lamanya.
Lokasi utama: Dusun Siweru, Desa Gembongan, Kecamatan Sigaluh.
Usia pohon induk: Lebih dari 100 tahun.
Varietas hasil penyambungan: Musang King, Durian Hitam, Bawor, dan Mimang.
Durasi keberhasilan teknik: Dua tahun setelah proses penyambungan.
Bupati Banjarnegara, dr. Amalia Desiana, memberikan apresiasi besar saat menyaksikan langsung proses panen di Desa Gembongan. Ia menilai inovasi ini sebagai langkah strategis dalam memperkuat identitas daerah sebagai sentra durian berkualitas tinggi.
“Top working ini adalah terobosan yang memungkinkan pohon durian lokal menghasilkan buah dengan cita rasa yang lebih enak, bahkan mirip dengan Musang King dari Malaysia. Dengan teknik ini, produksi durian unggulan bisa meningkat dengan cepat,” kata Amalia.
Inovasi tersebut membawa dampak ekonomi positif bagi kesejahteraan masyarakat di wilayah Sigaluh. Keberadaan pohon multirasa tersebut mendatangkan banyak wisatawan serta kolektor buah yang ingin merasakan sensasi berbagai varietas dalam satu batang pohon.
Desa Gembongan kini bertransformasi menjadi laboratorium alam bagi pengembangan hortikultura di Jawa Tengah. Keberhasilan Riyono membuktikan bahwa pohon tua berumur ratusan tahun tetap bisa produktif dan kompetitif melalui sentuhan teknologi pertanian tepat guna.(*)

Social Footer