Kolonel Inf (Purn) Jonnie Koentara, Manager Hubungan Industrial, Direktorat SDM dan Umum, PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) (Foto: Dede Kurniawan/Divkom APN)

Jakarta, GENSAWIT.COM – Seorang pakar psikologi militer yang kini menjabat sebagai Manager Hubungan Industrial PT Agrinas Palma Nusantara (Persero), Jonnie Koentara, mengungkap faktor utama kegagalan adaptasi karyawan baru di industri kelapa sawit.

Banyak pekerja mengalami gegar budaya karena perbedaan drastis antara ekspektasi awal dengan realitas kehidupan di lapangan. Kondisi ini memicu tekanan mental hingga gangguan fisik bagi mereka yang tidak memiliki latar belakang perkebunan.

Jonnie menjelaskan bahwa ketidaktahuan mengenai aspek teknis paling dasar di kebun sering kali membuat para pendatang baru merasa sangat kewalahan.

“Mereka tidak tahu apa itu berondolan, piringan, kernel. Ketemu kebun ratusan hektare, langsung bingung,” ujar Jonnie Koentara, dikutip dari laman Agrinas Palma Nusantara, Sabtu (03/01/2026).

Tekanan di Balik Euforia

Fenomena ini umumnya menyerang tenaga kerja yang berasal dari lingkungan non-sawit. Meski awalnya masuk dengan rasa bangga, tantangan seperti fasilitas terbatas dan lokasi jauh segera mengubah antusiasme menjadi beban pikiran.

Gejala yang muncul mencakup gangguan emosional seperti mudah marah dan tersinggung. Selain itu, penderita gegar budaya ini sering mengalami sakit kepala, kehilangan selera makan, hingga gangguan lambung atau GERD.

Jonnie menyebutkan bahwa setelah melewati masa senang di awal, karyawan akan masuk ke dalam sebuah fase yang penuh dengan gejolak perasaan kecewa hingga keinginan untuk pulang.

“Kaget. Frustrasi. Itu fase kedua,” ujarnya saat membedah siklus psikologis yang kerap dialami oleh para pegawai baru di lingkungan kerja perkebunan yang cukup ekstrem.

Kunci Bertahan di Lapangan

Untuk mengatasi tantangan ini, kemampuan bersosialisasi menjadi faktor penentu. Pekerja yang menutup diri cenderung lebih lambat dalam menyesuaikan diri dibandingkan mereka yang aktif menjalin komunikasi dengan lingkungan sekitar.

Jonnie menekankan pentingnya sikap terbuka dan kemauan untuk menerima bahwa lingkungan baru selalu berbeda. Menurutnya, proses perubahan ritme hidup ini memerlukan sebuah sikap mental yang spesifik agar bisa sukses.

“Adaptasi, bagaimanapun, memerlukan kerendahan hati,” tutur purnawirawan TNI yang memiliki latar belakang psikologi militer tersebut dalam memberikan saran bagi para pejuang di industri kelapa sawit.

Keberhasilan melewati masa sulit ini akan membawa karyawan masuk ke tahap penyesuaian diri hingga akhirnya mencapai adaptasi penuh. Ketahanan mental menjadi aset utama dalam menghadapi dinamika hidup di wilayah perkebunan.(*)

-----

Temukan kami di Google - Informasi dan berita perkebunan tersedia secara lengkap di Google, selengkapnya disini: https://www.google.com/genkebun.